Findy Alfiansyah Penulis
HARIANEXPRESS, KALTIM – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur menetapkan status Tanggap Darurat Karhutla dan Kekeringan selama 28 hari, mulai 30 Juli hingga 26 Agustus 2026, Kamis (30/07/2026).
Peningkatan Karhutla ekstrem akibat musim kemarau telah mendorong penetapan status ini. Bupati Kotawaringin Timur, Halikinnor, menjelaskan keputusan tersebut didasarkan tiga parameter utama, yakni frekuensi kebakaran harian, penurunan tinggi muka air tanah, serta peningkatan jumlah titik panas (hotspot).
Status Tanggap Darurat memungkinkan pemerintah daerah mengambil langkah antisipasi lebih cepat. Dana Belanja Tidak Terduga (BTT) dapat digunakan, serta bantuan dari pemerintah provinsi dan pusat, termasuk water bombing, dapat diminta.
Situasi serupa terjadi di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat, dimana api melahap kawasan Bukit Laet, Desa Subah, Kecamatan Tayan Hilir. Kobaran api yang membakar semak belukar di area perbukitan ini sempat membesar, mendekati jalan Trans Kalimantan.
Ini membuat para pengendara khawatir dan menghentikan kendaraan mereka. Sebanyak enam unit mobil pemadam kebakaran dikerahkan untuk melokalisasi titik api, mencegahnya merambat ke akses jalan utama.
Danramil 1204/07 Tayan Hilir, Kapten Inf Oktavia Andri Koto, melaporkan pihaknya menerima laporan warga sekitar pukul 17.15 WIB.
“Kami bersama Kapolsek dan tim segera meluncur ke lapangan untuk menangani langsung di TKP,” Ujar Danramil 1204/07 Tayan Hilir, Kapten Inf Oktavia Andri Koto.
Pemandangan kebakaran lahan juga terlihat di Kecamatan Tebo Tengah, Kabupaten Tebo, Jambi. Setidaknya 1,5 hektare lahan yang disiapkan untuk perkebunan kelapa sawit hangus terbakar di sana.
Kebakaran ini kuat dugaan dipicu upaya pembersihan lahan dengan cara dibakar, yang kemudian lepas kendali akibat cuaca panas dan angin kencang. Petugas BPBD bersama warga setempat harus berjibaku memadamkan api agar tidak meluas ke lahan produktif lainnya.
BPBD kembali mengimbau masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Peringatan ini mengingat risiko tinggi Karhutla di tengah kondisi cuaca yang sangat kering saat ini.


