Findy Alfiansyah Penulis
HARIANEXPRESS, KALTIM – Produksi batu bara Kaltim mencapai 308,67 juta ton pada 2024, tertinggi dalam lima tahun terakhir, Senin (27/7/2026).
Batu bara terus menjadi penopang utama sektor energi di Kaltim, bahkan di tengah tren penurunan produksi minyak dan gas bumi (migas). Kontribusinya terhadap perekonomian daerah tetap besar, menurut data resmi.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kaltim, Bambang Arwanto, menyoroti tingginya produksi ini sebagai cerminan peran penting batu bara. Ia menyatakan bahwa komoditas ini masih menopang aktivitas pertambangan di Benua Etam.
Data dari Dinas ESDM Kaltim menunjukkan fluktuasi produksi batu bara selama lima tahun terakhir. Pada 2020, produksi tercatat 206,03 juta ton, kemudian meningkat menjadi 294,25 juta ton pada 2021.
Produksi sempat menurun menjadi sekitar 180,01 juta ton pada tahun 2022. Namun, memasuki tahun 2023, angka tersebut kembali naik menjadi 207,44 juta ton.
Tren positif berlanjut pesat pada 2024, saat produksi mencapai puncaknya di 308,67 juta ton. Ini menjadi rekor tertinggi dalam periode lima tahun tersebut.
Peningkatan produksi ini dipengaruhi oleh membaiknya permintaan batu bara di pasar internasional. Beberapa negara tujuan ekspor, seperti Tiongkok dan India, meningkatkan kebutuhan energi mereka setelah pemulihan aktivitas ekonomi pascapandemi Covid-19.
Selain itu, harga batu bara di pasar global yang masih kompetitif juga menjadi faktor pendorong. Kondisi ini memicu perusahaan-perusahaan untuk meningkatkan volume produksi guna memenuhi permintaan ekspor yang ada.
“Produksi batu bara pada 2024 menjadi capaian tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini menunjukkan sektor pertambangan masih memberikan kontribusi penting terhadap perekonomian Kalimantan Timur,” Ujar Bambang Arwanto.
Dokumen pembangunan daerah turut mencatat bahwa fenomena ini berdampak positif pada ekonomi regional. Komoditas ini terus menjadi tulang punggung bagi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Timur.


