Findy Alfiansyah Penulis
HARIANEXPRESS, KALTIM – Tim gabungan menyelamatkan 51 orangutan terdampak karhutla di Kalimantan Barat, termasuk 30 individu di perkebunan sawit PT KALE, Minggu (18/10/2026).
Penyelamatan dilakukan Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Operasi tersebut bertujuan melindungi orangutan yang kehilangan habitat akibat kebakaran.
Analisis citra satelit pada 1 Agustus hingga 25 September 2026 menunjukkan lebih dari 90 persen kawasan hutan bernilai konservasi tinggi di area perusahaan tersebut telah terbakar. Padahal, kawasan itu diperkirakan menjadi habitat sekitar 150 orangutan berdasarkan publikasi ilmiah pada 2016.
Sebanyak 27 orangutan yang diselamatkan dari kawasan perkebunan masih menjalani perawatan intensif di pusat rehabilitasi YIARI di Ketapang. Tim medis menangani satwa yang mengalami gangguan kesehatan akibat kehilangan habitat dan kekurangan makanan.
Empat orangutan terbaru yang dievakuasi bernama Lusi, Riri, Mama Rian, dan Rian. Lusi dan Riri ditemukan tanpa induk di kawasan hutan Desa Laman Satong, sedangkan Mama Rian dan anaknya diselamatkan dari kebun warga di Desa Riam Berasap.
CEO YIARI sekaligus dokter hewan satwa liar, Karmele Llano Sanchez, mengatakan kondisi sejumlah orangutan sangat memprihatinkan. Lusi yang diperkirakan berusia 4–6 tahun ditemukan kurus serta mengalami luka di beberapa bagian tubuh.
“Orangutan Lusi terlihat sangat stres dan sangat kurus. Mungkin sudah berapa hari tidak dapat makanan apa pun di hutan yang sudah hancur ini,” Ujar Karmele.
Sementara itu, Riri ditemukan ketakutan di atas pohon kelapa sawit dalam kondisi dehidrasi tanpa kehadiran induknya. Kebakaran menyebabkan satwa kehilangan sumber makanan dan tempat bersarang sehingga sebagian orangutan mendekati permukiman warga.
Karmele menjelaskan, proses penyelamatan menghadapi kendala akibat kondisi lingkungan yang masih berbahaya. Asap tebal dan titik panas di lahan gambut menyulitkan petugas melakukan pemeriksaan serta evakuasi satwa.
“Kondisi di lapangan masih sangat memprihatinkan. Di beberapa bagian, asap masih tebal, bahkan masih ditemukan titik-titik dengan tanah yang mengeluarkan asap,” Kata Karmele.
Tim gabungan terus melakukan pemantauan untuk mengetahui kemungkinan adanya orangutan lain yang masih terjebak di kawasan terbakar. Penyelamatan lanjutan diperlukan agar satwa yang terdampak segera mendapatkan pertolongan medis, sekaligus mencegah risiko kematian akibat kebakaran dan kerusakan habitat.











