Findy Alfiansyah Penulis
HARIANEXPRESS, KALTIM – Unggahan motivasi yang dikaitkan dengan istri Gubernur Kaltim, Syari’ah H. Suraidah, menjadi sorotan warganet di tengah isu karhutla, Kamis (15/10/2026).
Perbincangan tersebut mencuat setelah tangkapan layar unggahan akun Instagram miliknya beredar kembali di media sosial. Sejumlah warganet menilai konten tersebut kurang menunjukkan kepekaan terhadap kondisi lingkungan dan dampak karhutla yang dihadapi masyarakat.
Unggahan yang beredar berisi pesan reflektif mengenai pengembangan diri, pengendalian sikap, dan pentingnya menjaga fokus dalam menjalani kehidupan. Salah satu kutipan berbahasa Inggris yang dibagikan berbunyi, “Work hard. Dress good. Avoid drama. Eat well. Talk less. Chase goals. Stay humble.”
Selain pesan motivasi tersebut, terdapat pula unggahan singkat bertuliskan “Alhamdulillah”. Konten-konten itu kemudian menjadi bahan pembahasan di media sosial karena muncul ketika persoalan karhutla di Kalimantan Timur masih menjadi perhatian.
Meski demikian, unggahan tersebut tidak secara eksplisit membahas karhutla ataupun menyampaikan pernyataan mengenai kondisi kebakaran. Kritik yang muncul lebih berkaitan dengan persepsi sebagian warganet terhadap kesesuaian konten tersebut dengan situasi lingkungan yang sedang dihadapi masyarakat.
“Reaksi masyarakat menunjukkan tingginya perhatian terhadap sikap dan komunikasi figur publik, terutama ketika daerah sedang menghadapi persoalan lingkungan. Namun, penilaian terhadap sebuah unggahan tidak bisa serta-merta dijadikan dasar untuk menyimpulkan tingkat kepedulian pemilik akun,” Ujarnya.
Di sisi lain, penilaian terhadap unggahan media sosial tersebut tetap merupakan pandangan warganet. Isi unggahan yang beredar tidak dengan sendirinya membuktikan sikap atau tingkat kepedulian pemilik akun terhadap penanganan karhutla.
Kebakaran hutan dan lahan menjadi persoalan lingkungan yang dapat berdampak pada kualitas udara, kesehatan masyarakat, serta aktivitas sehari-hari warga di wilayah terdampak. Kabut asap akibat kebakaran juga berpotensi meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan.
Dalam situasi tersebut, penanganan karhutla membutuhkan koordinasi pemerintah, petugas di lapangan, pelaku usaha, dan masyarakat untuk mencegah meluasnya kebakaran serta mengurangi dampak asap.
Hingga informasi yang disampaikan dalam bahan berita ini, belum terdapat keterangan mengenai tanggapan langsung Syari’ah H. Suraidah atas kritik yang beredar. Karena itu, sorotan terhadap unggahan tersebut perlu dipisahkan dari fakta penanganan karhutla dan langkah konkret pemerintah dalam menghadapi bencana lingkungan.











