Findy Alfiansyah Penulis
HARIANEXPRESS, KALTIM – Ekonomi Kalimantan Timur tumbuh 3,17 persen pada semester I 2026, didorong sektor akomodasi dan makan minum, Rabu (5/8/2026).
Sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat pertumbuhan impresif sebesar 14,86 persen sepanjang periode tersebut. Peningkatan ini berhasil mendongkrak kinerja ekonomi provinsi dibandingkan semester I tahun sebelumnya.
Hampir seluruh lapangan usaha di Kaltim menunjukkan kinerja positif, kecuali jasa keuangan dan asuransi yang mengalami kontraksi 0,55 persen. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Mas’ud Rifai.
“Ekonomi Kaltim semester I 2026 dibandingkan dengan semester I 2025 tumbuh sebesar 3,17 persen, didorong oleh meningkatnya kinerja ekonomi di hampir seluruh lapangan usaha, kecuali jasa keuangan dan asuransi yang minus 0,55 persen,” Ujar Mas’ud Rifai.
Selain akomodasi dan makan minum, dua lapangan usaha lain menunjukkan laju pertumbuhan tertinggi. Sektor informasi dan komunikasi tumbuh 13,24 persen, sementara perdagangan besar dan eceran, serta reparasi mobil dan sepeda motor naik 13,21 persen.
Beberapa lapangan usaha memberikan andil positif terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Kaltim. Perdagangan besar dan eceran hingga reparasi menyumbang 0,86 persen, diikuti industri pengolahan dengan andil 0,53 persen.
Sektor konstruksi juga memberikan kontribusi sebesar 0,28 persen terhadap pertumbuhan ekonomi provinsi. Ini menunjukkan diversifikasi pendorong ekonomi di Kaltim.
Dari komponen pengeluaran, pertumbuhan ekonomi tertinggi terjadi pada konsumsi lembaga nonprofit rumah tangga hingga 5,88 persen. Peningkatan kinerja cukup baik juga ditunjukkan oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,01 persen.
“Selanjutnya, komponen pengeluaran konsumsi pemerintah, komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB), serta komponen ekspor barang dan jasa tumbuh positif masing-masing sebesar 3,48 persen, 2,86 persen, dan 1,51 persen,” Kata Mas’ud Rifai.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kaltim berdasarkan harga berlaku pada semester I 2026 tercatat sebesar Rp475,74 triliun. Angka ini terdiri dari Rp229,07 triliun di triwulan I dan Rp246,66 triliun di triwulan II.
Kontribusi PDRB dari lapangan usaha pertambangan dan penggalian mencapai Rp76,63 triliun di triwulan I dan Rp85,07 triliun di triwulan II. Sementara itu, usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang Rp21,73 triliun (triwulan I) serta Rp22,95 triliun (triwulan II).
“Kemudian, lapangan usaha industri pengolahan pada triwulan I dengan PDRB atas dasar harga berlaku sebesar Rp44,41 triliun dan triwulan II Rp49,57 triliun,” Ujar Mas’ud Rifai.


