Findy Alfiansyah Penulis
HARIANEXPRESS, KALTIM — Sebanyak 405 kayu gelondongan asal Kalimantan Timur terdampar di pesisir Dungkek setelah tongkang dihantam cuaca buruk di perairan Pulau Jawa, Jumat (25/9/2026).
Kayu tersebut terlepas dari total 697 batang yang diangkut tongkang dari Sungai Berau, Kalimantan Timur, menuju Probolinggo, Jawa Timur.
Tongkang yang membawa muatan kayu itu diawaki 10 anak buah kapal (ABK) dan satu nakhoda.
Kapal berangkat pada Sabtu (5/9/2026) dengan perkiraan waktu pelayaran 11 hari. Namun, perjalanan bertambah menjadi 13 hari akibat kondisi cuaca yang memburuk.
Tongkang kemudian tiba di sekitar perairan Pulau Giliyang pada Jumat (18/9/2026) sekitar pukul 17.00 WIB.
Saat melintasi perairan Pulau Jawa, tongkang dihantam gelombang tinggi selama dua hari. Ketinggian ombak dilaporkan mencapai empat meter hingga membuat posisi kapal miring.
Awak kapal kemudian memilih berlindung di sekitar Pulau Giliyang karena kondisi gelombang dinilai membahayakan pelayaran. Air yang masuk ke dalam tongkang juga sempat berusaha dikeluarkan oleh awak kapal.
“Karena cuaca buruk, air masuk ke dalam tongkang. Ditambah lagi tekanan muatan kayu yang berat. Akhirnya kami memutuskan untuk bertahan dulu di sekitar Pulau Giliyang,” Ujar James Malumbot (Mualim I kapal tongkang)
Posisi kapal yang miring menyebabkan ikatan muatan putus sehingga ratusan batang kayu jatuh ke laut dan hanyut hingga pesisir Desa Bicabbi, Desa Dungkek, dan Desa Romben Guna.
Pemeriksaan lapangan memastikan kayu-kayu tersebut memiliki stiker identifikasi berlogo Kementerian Kehutanan serta tanda SVLK. KRPH Sumenep Imam Syafi’i menyatakan dokumen identifikasi kayu dinyatakan sah dan penanganannya masih dilakukan sesuai prosedur.











