Minggu, 30 Agustus 2026
Hot

BPBD Kaltim: OMC Terhalang Awan Tipis, Ancaman Karhutla Meningkat

BPBD Kaltim menyatakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tidak dapat dipaksakan tanpa awan yang memadai. Kondisi kering dan ancaman karhutla menjadi sorotan serius di wilayah tersebut.

Article ad before first paragraph

Findy Alfiansyah Penulis

HARIANEXPRESS, KALTIM – OMC di Kaltim terkendala keterbatasan awan, di tengah ancaman kekeringan dan karhutla, Sabtu (29/8/2026).

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Timur menegaskan bahwa pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) tidak dapat dipaksakan. Ini terjadi di tengah kondisi cuaca yang sangat kering dan ancaman serius kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meningkat.

Meskipun banyak daerah di Kaltim sangat membutuhkan curah hujan, operasi modifikasi cuaca tidak bisa langsung dilakukan begitu saja. Pelaksanaannya sangat bergantung pada ketersediaan potensi bibit awan yang cukup di atmosfer.

Article ad in the middle of article

Data terbaru dari BPBD Kaltim mencatat total 14.795 titik panas terdeteksi di provinsi tersebut sepanjang periode 1 hingga 26 Agustus 2026. Angka ini berasal dari hasil pembacaan satelit dengan tingkat kepercayaan yang bervariasi, tidak seluruhnya mengindikasikan kebakaran.

Konsentrasi titik panas terbanyak tercatat di Kabupaten Berau dengan 6.004 titik, disusul oleh Kutai Timur sebanyak 3.003 titik, dan Kutai Kartanegara dengan 2.426 titik. Kemudian, Paser mencatat 1.934 titik panas dan Kutai Barat 853 titik, sementara Kota Samarinda sendiri hanya mencatat 52 hotspot.

Kepala Pelaksana BPBD Kaltim, Buyung Dodi, menjelaskan bahwa penentuan lokasi untuk Operasi Modifikasi Cuaca tidak bisa dilakukan secara sembarangan.

“Pelaksanaannya itu tergantung dari BNPB dan potensi bibit awan yang ada,” Ujar Buyung Dodi.

Menurut Buyung, keberadaan awan saja belum memadai untuk menjamin keberhasilan operasi penyemaian. Awan harus memiliki ketebalan dan luasan tertentu agar bahan semai dapat bekerja secara efektif dan menghasilkan hujan.

“Jadi memang ada hitungannya dari teman-teman. Kalau misalkan ketebalannya sekian kilometer, bukan hanya awan yang kecil. Harus cukup lebar,” Ujar Buyung Dodi.

Oleh karena itu, penebaran garam atau bahan semai lainnya menjadi tidak memungkinkan jika dipaksakan pada kondisi awan yang terlalu tipis. Ketersediaan awan yang ideal merupakan faktor krusial dalam keberhasilan program hujan buatan ini.

Sebelumnya, sebuah pesawat jenis Cessna Grand Caravan 208B milik Smart Aviation telah tiba di Bandar Udara Kalimarau, Berau. Kedatangan pesawat ini merupakan bagian dari persiapan untuk mendukung pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca di wilayah tersebut.

Article ad after last paragraph